Setelah lulus SMA atau setamat pendidikan setingkat SMA, sebaiknya langsung kuliah atau nikah dulu aja?

Pertanyaan di atas adalah pertanyaan yang sangat wajar, terutama di kalangan wanita muslimah yang mulai menginjak usia dewasa.

Saya tidak memiliki kapabilitas untuk menjawabnya, karena itu, mari cari tahu apa jawaban ulama untuk pertanyaan tersebut.

Berikut ini saya kutipkan tanya-jawab berikut jawaban ulama untuk pertanyaan tersebut.

Dalam buku berjudul Ta’lim Muta’allim: Kajian dan Analisis serta Dilengkapi Tanya Jawab (2015) yang disusun oleh M . Fathu Lillah dan diterbitkan oleh Lirboyo Press, di halaman 145 diceritakan sebuah kasus sebagai berikut:

Menikah disuruh orangtua

Kang Shirot, santri asal Nganjuk yang tiap harinya tidak lepas dari kitab dan masjid akan menyelesaikan pendidikan di pesantrennya tahun ini. Seusai tamat nanti ia bercita-cita ingin berkhidmat terlebih dahulu di pondoknya.

Namun, apa mau dikata, orangtuanya berkehendak lain. Orangtuanya meminta Shirat untuk pulang begitu selesai pendidikan pesantrennya untuk menikah, karena sudah dianggap cukup umur. Kang Shirot menghadapi dilema: antara mengabdi di pesantren atau menikah untuk memenuhi permintaan orangtua.

JAWABAN: Menurut mazhab Hambali, permintaan orangtua tersebut wajib untuk dipenuhi karena termasuk birrul walidain (berbakti kepada kedua orangtua).

Dengan demikian, jika ‘menikah’ adalah permintaan dari orangtua, maka menikahlah dalam rangka berbakti kepada kedua orangtua.

Adapun jika orangtua tidak menyuruh, maka pilihan terbaik adalah menuntut ilmu terlebih dahulu.

Dalam kitab Manaqib al-A`immah al-Arba’ah, tertulis nasihat untuk laki-laki sebagai berikut ini, sebagaimana yang juga dikutip dalam buku Ta’lim Muta’allim: Kajian dan Analisis serta Dilengkapi Tanya Jawab (2015) di halaman 461-462:

وَلَا تَتَزَوَّجْ إِلَّا بَعْدَ اَنْ تَعْلَمَ أَنَّكَ تَقْدِرُ عَلَى الْقِيَامِ بِجَمِيْعِ حَوَائِجِهَا وَاطْلُبِ الْعِلْمَ أَوَّلًا ثُمَّ اجْمَعِ الْمَالَ مِنَ الْحَلَالِ ثُمَّ تَزَوَّجْ فَإِنَّكَ إِذَا اشْتَغَلْتَ بِطَلَبِ الْعِلْمِ فِى وَقْتِ التَّعَلُّمِ عَجُزْتَ عَنْ طَلَبِ الْعِلْمِ إِلَى أَنْ قَالَ وَاشْتَغِلْ بِالْعِلْمِ ثُمَّ اشْتَغِلْ بِالْمَالِ لِيَجْتَمِعَ عِنْدَكَ فَإِنْ كَثُرَ الْوَلَدُ وَالْعِيَالُ يُشَوِّشُ الْبَالُ فَإِنْ جَمَّعْتَ الْمَالَ فَاشْتَغِل بِالتَّزَوُّج

Dan janganlah menikah kecuali setelah kamu mengerti bahwa dirimu mampu untuk memenuhi kebutuhan seorang perempuan.

Pertama, carilah ilmu kemudian kumpulkan harta yang halal kemudian menikahlah. Sesungguhnya, andai saja kamu tersibukkan dengan bekerja dalam rangka mencari harta di waktu belajar, maka kamu akan lemah dari mencari ilmu.

Bekerjalah kamu untuk mencari harta supaya kamu mempunyai harta, karena sesungguhnya banyaknya anak dan keluarga itu akan menggundahkan hati, maka ketika kamu sudah mengumpulkan harta, maka menikahlah.

Demikian kiranya jawaban ulama untuk pertanyaan ‘nikah atau kuliah’. Semoga jawaban ini membantumu dalam membuat keputusan mengenai pilihan apa yang akan kamu ambil setelah lulus SMA.

Image credit: ferli/123RF.COM

Penulis

Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sehari-hari mengelola CalonMahasiswa.com, sebuah blog yang didedikasikan untuk membantu calon mahasiswa mendapatkan informasi dan tips yang mereka butuhkan.

Berikan Komentar

Artikel ini Bermanfaat?

Jika ya, silakan bagikan ke teman-teman kamu, ya!
▸tutup