Sebagai mahasiswa Sastra Jepang, mungkin ada yang mengalami hal seperti ini: ketika menjawab pertanyaan saudara dan relasi  mengenai jurusan kuliah yang sedang dijalani, tidak sedikit yang memberikan komentar nyinyir (atau sinis?).

“Ooh, Sastra Jepang. Arigato, arigato.”

“Bisa Bahasa Jepang, dong?”

Emangnya lulus dari sana bisa jadi apa, sih…”

Duh.

Tidak dapat dipungkiri, persepsi masyarakat umum terhadap jurusan yang berkaitan erat dengan hiragana dan kanji ini memang masih banyak yang kurang tepat. Mulai dari dianggap sebelah mata sebagai salah satu jurusan sastra, pandangan skeptis mengenai prospek karir dan pekerjaan, bayangan mengerikan mengenai hafalan kanji, maupun hal sederhana namun tidak masuk akal: dianggap ingin jadi orang Jepang.

Hedeeeh.

Padahal, ada banyak sekali hal yang bisa digali dari Jurusan Sastra Jepang. Sebagai salah satu jurusan sastra asing, Sastra Jepang tidak bisa dianggap remeh, lho.

Nah, apa saja sih salah persepsi yang dimiliki orang-orang mengenai kuliah di Jurusan Sastra Jepang? Kalau kamu calon mahasiswa yang ingin belajar di Sastra Jepang, kamu wajib tahu, nih!

1. Cukup Membaca dan Menulis

Mentang-mentang terkait dengan istilah ‘sastra’, banyak yang berpikir kalau kuliah Sastra Jepang atau sastra pada umumnya cukup dengan bermodal kemampuan baca-tulis. Kuliah di Sastra Jepang memang jauh dari praktik di lab sambil mengenakan jas dan hitung-menghitung rumus. Jurusan ini menuntut kemampuan menulis dan memahami bacaan dengan baik. Tapi jangan salah–tanpa kemampuan ini, kamu tidak akan bisa berbicara dalam bahasa Jepang dengan baik pula.

Terutama dalam hal menulis, dibutuhkan ketelitian dan kerapian untuk menulis huruf-huruf yang digunakan dalam bahasa Jepang, yaitu hiragana, katakana, dan kanji. Membiasakan untuk mengekspos diri pada huruf-huruf tersebut akan menambah kelancaran dan kemudahan dalam belajar di Sastra Jepang.  

Jurusan ini juga menuntut mahasiswa untuk percaya diri karena selain membaca dan menulis, mahasiswa Sastra Jepang akan diasah dalam kemampuan menyimak dan berbicara. Diperlukan fokus dan kecepatan berpikir yang tinggi untuk bisa memahami dan mengucapkan bahasa Jepang dengan baik dan benar. Kalau terlalu memikirkan rasa malu atau takut salah, kita tidak akan bisa belajar apa-apa di sini. Yang penting pede!

2. Terlalu Santai

Sebagai jurusan yang menekankan pembelajaran bahasa, timbul persepsi bahwa kuliah di Sastra Jepang terlalu santai dan tidak membutuhkan banyak kerja keras. Wah, ini ngaco. Banget. Kalau hanya sekadar suka menonton anime atau membaca manga sih, asal ada kemauan, semua orang juga bisa belajar bahasa Jepang.

Usaha adalah hal yang mutlak dimiliki untuk menjalani kuliah di jurusan apapun, termasuk Sastra Jepang. Seperti kuliah pada umumnya, Sastra Jepang pun memiliki tugas-tugas yang harus diselesaikan. Membuat sakubun (karangan dalam bahasa Jepang), menganalisis teks, mempraktikkan percakapan, hingga membuat makalah mengenai budaya Jepang, adalah sebagian dari jenis-jenis tugas yang biasanya diberikan pada mahasiswa Sastra Jepang.

Selain itu, di Sastra Jepang juga kita belajar berinteraksi dan berdiplomasi dengan orang Jepang langsung. Hal ini yang menjadi tantangan utama dalam kuliah di Jurusan Sastra Jepang. Berkomunikasi dengan orang Jepang langsung tidak bisa dilakukan tanpa mengerti kaidah dan memahami budayanya. Dengan kuliah di Sastra Jepang, kita tidak hanya belajar untuk bicara dalam bahasa Jepang, tapi juga memahami budaya mereka.

3. Benci Budaya Sendiri

Ini poin yang sering dilontarkan tanpa mengetahui kenyataannya. Faktanya, belajar budaya asing sebenarnya justru membantu seseorang untuk mengenal budayanya lebih baik lagi.

Ketika belajar budaya asing, tentu saja kita akan membandingkan dengan budaya sendiri yang sudah sangat familiar. Perbandingan ini akan membantu kita untuk lebih mengetahui apa kekurangan dan kelebihan budaya sendiri yang bisa diperbaiki atau dibanggakan. Ketika mendapat kesempatan untuk ke Jepang sebagai penerima beasiswa atau duta budaya, tentu kita tidak bisa bersikap seenaknya hingga menimbulkan persepsi buruk tentang Indonesia.

Selain wawasan yang bertambah, kita juga memiliki pandangan yang lebih netral karena mengetahui bahwa setiap budaya negara memiliki daya tariknya masing-masing. Bisa dikatakan bahwa belajar di Sastra Jepang sama dengan belajar apresiasi dan toleransi. Hal ini tentu sangat penting mengingat perkembangan zaman telah menuntut manusia untuk menjadi masyarakat global.

4. Prospek Karir Sempit

sedang berpikir
Ilustrasi: ijmaki/Pixabay

Persepsi negatif mengenai karir dan pekerjaan bagi lulusan Sastra Jepang atau sastra pada umumnya memang cenderung tinggi. Masih banyak orang yang tidak mengenal dengan baik seperti apa prospek yang dimiliki lulusan Sastra Jepang.

Selain sebagai tenaga pengajar dan penerjemah, lulusan Sastra Jepang sangat bisa berkarir di kedutaan. Kalau suka dengan dunia tulis-menulis, bisa juga berkecimpung di dunia penerbitan sebagai editor atau penulis. Bagi penggemar wisata, silakan coba bekerja sebagai pemandu wisata atau agen wisata yang mempromosikan keindahan alam negara sendiri.

Tenaga pengajar dan penerjemah pun lingkupnya sangat luas, lho. Lulusan Sastra Jepang bisa menjadi dosen atau guru bahasa Indonesia bagi orang Jepang, baik di Indonesia maupun di Jepang. Kalau ingin menjadi penerjemah pun bisa sebagai penerjemah buku atau penerjemah langsung (interpreter).

Itu dia beberapa poin mengenai salah persepsi dalam masyarakat umum terkait kuliah di Sastra Jepang. Sebenarnya, di mana pun kita kuliah, semuanya kembali pada diri sendiri—apakah kita ingin menjadi representasi yang baik atau gagal dari almamater?

Semangat untuk kamu para calon mahasiswa!

Penulis

Alumni Sastra Jepang Unpad, lulus tahun 2019. Hobi membaca dan menonton hal-hal berbau shoujo. Hasil tulisan dan pemikirannya bisa dikunjungi dan dilihat lebih banyak di suisen10.wordpress.com.

Berikan Komentar

Artikel ini Bermanfaat?

Jika ya, silakan bagikan ke teman-teman kamu, ya!
▸tutup