Saya lulus kuliah S1 dari sebuah perguruan tinggi negeri dengan IPK 3.67, tapi saya tidak bisa bekerja di bidang yang sesuai dengan jurusan kuliah yang saya ambil.

Jurusan saya adalah Tarjamah (Penerjemahan Arab-Indonesia) tapi mengapa saya tidak bisa bekerja sebagai penerjemah padahal saya punya IPK 3.67? Barangkali di antara teman-teman ada yang punya pertanyaan seperti itu.

Jawaban saya: saya tidak ahli.

Jika Pak Rocky Gerung pernah menulis, “Ijazah itu tanda Anda pernah sekolah. Bukan tanda anda pernah berpikir.” Maka saya juga ingin menulis, “IPK tinggi itu tanda Anda bisa menjawab soal-soal ujian di perguruan tinggi. Bukan tanda Anda seorang ahli.”

Oleh karena itu, mumpung kalian masih seorang calon mahasiswa, belum kuliah, tanamkan mindset ini ke dalam pikiran kalian sejak dini, bahwa penting memiliki IPK tinggi, tapi jauh lebih penting lagi menjadi seorang yang ahli.

Ngomong-ngomong, bagaimana menjadi seorang yang ahli?

Menurut hasil bacaan saya terhadap beberapa referensi dan berdasarkan pengalaman pribadi, inilah beberapa hal yang harus dilakukan untuk menjadi seorang yang memiliki keahlian.

1. Pastikan Bidang yang Ingin Dikuasai Merupakan Passion Kita

Apa itu passion?

Dalam bahasa saya…

Passion adalah sesuatu, yang sangat menarik bagi kita, saat kita melakukannya dari sejak bangun tidur sampai tidur lagi, kita tidak merasa bosan.

Passion adalah suatu bidang, yang kalau kita membaca 500 buku atau lebih tentang bidang itu, kita tidak merasa bosan.

Itu passion dalam bahasa saya.


Dan Schawbel, seorang penulis di Forbes pernah bertanya kepada Robert Green, penulis buku-buku best seller.

“Apakah Anda percaya bahwa passion bisa diubah menjadi keahlian?” tanya Dan.

Robert Green menjawab,

“Aku tidak hanya percaya bahwa passion bisa diubah menjadi keahlian, bahkan aku percaya bahwa passion itu sangat penting! Tidak mengikuti passion dalam kehidupan adalah sebuah resep menuju kegagalan dan ketidakbahagiaan!”

2. Belajarlah keahlian satu per satu, setelah ahli di satu bidang, baru beralih ke bidang yang lain.

Ini adalah nasihat Robert Greene, penulis buku-buku best seller yang salah satu jawabannya tentang passion sudah saya kutip sebelumnya.

Berikut adalah nasihat Robert Greene selengkapnya tentang pentingnya mempelajari keahlian satu per satu.

“First, it is essential that you begin with one skill that you can master, and that serves as a foundation for acquiring others. You must avoid at all cost the idea that you can manage learning several skills at a time.”

Robert Greene

3. Berguru kepada yang ahli

Seringkali, untuk bidang yang kita ingin tekuni, sudah ada ahlinya. Nah, salah satu cara termudah dan terpasti untuk menjadi ahli di bidang yang kita tekuni itu ialah dengan berguru kepada orang yang sudah ahli.

Bagaimana mencari orang yang ahli?

Jika kita serius menekuni bidang kita, kita akan tahu siapa saja orang yang ahli di bidang tersebut.

Untuk berguru kepad orang tersebut, kita harus mendekatinnya dengan cara mendatangi seminar-seminar dan workshop-workshop yang mana dia menjadi pembicara di situ, membeli buku-buku yang dia tulis, mengikuti kursus-kursus yang dia sediakan, dan bekerja di bawah supervisinya.

Saya pribadi, untuk sampai kepada keahlian yang sekarang, saya lalui dengan belajar kepada para orang yang ahli di bidangnya.

Keahlian saya di bidang Facebook advertising, saya pelajari secara langsung dari Mas Iqbal Maulana, seorang master di bidang Facebook advertising asal Indonesia. Saya belajar Facebook ads, baik mindset maupun teknik, secara langsung dengan Mas Iqbal selama saya bekerja di Advertisa di bawah supervisi beliau.

Keahlian saya di bidang SEO, saya pelajari secara langsung dari Ustadz Vatih Ibrahim, seorang master SEO asal Indonesia. Saya belajar SEO selama hampir satu bulan di kediaman beliau dan secara online dengan mengikuti kelas premium yang beliau adakan.

Keahlian saya di bidang Google Ads, bermula dari tanya-jawab yang saya lakukan dengan Mas Adhie Sukma, seorang praktisi digital marketing dengan jam terbang tinggi, yang pernah menjabat sebagai digital marketing manager untuk beberapa perusahaan besar di negeri ini.

4. Bersabarlah

Untuk mengubah passion menjadi keahlian, diperlukan proses belajar yang tidak sesaat, perlu waktu. Karena itu, kita harus bersabar dalam menjalani proses belajar, agar usaha kita tidak terhenti di tengah jalan sebelum waktunya.

Ada sebuah pepatah Arab yang berbunyi…

َمَنْ صَبَرَ ظَفِر

Barang siapa yang bersabar akan beruntung.

Oleh karena itu, bersabarlah dalam menjalani proses mengubah passion menjadi keahlian.

Deepak Kanakaraju, salah seorang top blogger dan digital marketer di India, pernah menulis status di akun Facebook miliknya…

If you spend a lot of time with a specific passion, it becomes a skill.

Deepak Kanakaraju

Penutup

Memiliki IPK tinggi adalah kebanggaan. Ia juga memungkinkan kita untuk diundang interview oleh perusahaan. Namun demikian, ia bisa menjadi bumerang ketika tidak bisa dipertanggung jawabkan.

Memiliki IPK tinggi adalah keharusan, tapi lebih harus lagi memiliki keahlian.

Belajarlah untuk menjadi ahli, maka IPK tinggi akan mengikuti. Karena orang yang memiliki IPK tinggi, belum tentu ahli; tapi yang ahli, IPK-nya pasti tinggi.[]

Penulis

Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menyukai bidang digital marketing. Di waktu luang, Adnan mengelola CalonMahasiswa.com, sebuah blog yang didirikan untuk membantu calon mahasiswa mendapatkan informasi dan tips yang mereka butuhkan.

Berikan Komentar

Artikel ini Bermanfaat?

Jika ya, silakan bagikan ke teman-teman kamu, ya!
▸tutup