Saya malu menuliskan artikel dengan topik ini. Pasalnya, saya bukan seorang pengusaha. Belum tepatnya.

Oleh karena itu, untuk artikel ini, saya hanya akan menyalin sebuah bab yang terdapat dalam buku Rahasia Sukses Bisnis Mandiri: 69 Fakta yang Paling Sering Diabaikan Para Pebisnis Pemula, karya Ainun Muhammad, seorang wanita pengusaha dan motivator terkenal di Malaysia.

Sebenarnya Ainun Muhammad menulis untuk para orang tua, sebagai nasihat untuk orang tua yang menginginkan anak-anaknya menjadi pengusaha. Walaupun ditujukan untuk orang tua, namun bab tersebut juga layak dibaca oleh anak muda, terutama calon mahasiswa.


Beasiswa dan Bisnis

Jika Anda serius mengingkan anak Anda memasuki bidang keusahawanan, hendaknya Anda mempersiapkan tabungan pendidikan mereka dari sekarang. Dengan demikian, Anda mampu membiayai pendidikan universitas mereka kelak. Jangan sampai anak-anak Anda terpaksa menerima beasiswa. Hal itu akan menyebabkan mereka tidak dapat memulai bisnis saat mereka lulus.

lulus kuliah
“Photography of People Graduating” by Emily Ranquist from Pexels

Pada saat ini, beasiswa menjadi salah satu simboil status di kalangan orang Melayu. Di kalangan orang tua di Melayu, baik yang mempunyai gelar maupun jabatan tinggi, banyak yang merasa bangga jika anak-anak mereka ditawari beasiswa oleh lembaga-lembaga ternama, misalnya Bank Negara, Petronas, Proton, Telekom, TNB, dan sebagainya. Apalagi, jika beasiswa itu adalah beasiswa belajar di luar negeri. Namun, beasiswa juga mempunyai dampak negatif. Beberapa dampak negatif beasiswa atas kesuksesan bisnis anak Anda adalah sebagai berikut.

Anak Anda mungkin terpaksa bekerja dalam bidang yang tidak berkaitan secara langsung dengan bidang keusahawanan yang diminatinya. Farid (bukan nama sebenarnya) mempunya minat dan bakat keusahawanan dalam bidang pengawasan fasilitas umum. Namun, beasiswa Proton yang diterimanya memaksa ia mengambil jurusan otomotif.

Setelah menyelesaikan pendidikannya, ia bertugas sebagai ahli dalam Depatemen Penyelidikan dan Pembangunan Proton (R&D) selama tujuh tahun. Saat ia menerima tawaran beasiswa itu, gaji kedua orang tuanya berjumlah Rp 45 juta sebulan.

Anda menyerahkan masa depan anak Anda yang ber-IQ tinggi direncanakan oleh para pemberi beasiswa yang sama sekali tidak mengenali bakat dan kepribadian anak Anda. Risikonya adalah anak Anda tidak lagi mempunyai kebebasan merencanakan masa depannya sendiri.

robot

Ada sebuah kisah nyata. Rosman adalah anak seorang pejabat tinggi bank dalam negeri. Ibunya seorang auditor. Keduanya adalah lulusan Universitas Kebangsaan (UK). Pendapatan orang tuanya hampir Rp 75 juta sebulan dan tinggal dalam rumah besar yang dibangun di kawasan padang golf yang elit di pinggir Kuala Lumpur.

Rosman berhasil mengajukan beasiswa kepada sebuah bank. Namun, ia diminta mengambil bidang asuransi di UK. Sebenarnya, minat Rosman adalah bidang akuntansi dan ingin menjadi konsultan bidang pajak. Ia juga ingin membuka firma sendiri setelah mencari pengalaman dengan bekerja dalam bidang itu di firma besar internasional.

Sekembalinya ke Tanah Air, ia ditugaskan di bagian asuransi bank yang memberinya beasiswa. Ia memperoleh ijazah bidang asuransi dan pengalaman bertugas di lembaga asuransi selama tujuh tahun. Jadi, bagaimana mungkin ia dapat memenuhi cita-citanya menjadi ahli pajak dan membuka firma sendiri dalam bidang itu?

Biaya pendidikan di Malaysia masih murah. Para orang tua bangsa Melayu yang mempunya pendapatan Rp 7,5 juta sebulan hendaknya membuat asuransi pendidikan sejak anak-anak mereka baru lahir. Itulah yang dilakukan oleh para orang tua bangsa Cina.

Hadiah yang paling berarti bagi anak-anak yang pintar dan lulus dengan pendidikan tinggi adalah memberikan mereka hak dan kebebasan membuat pilihan setelah lulus. Hak dan kebebasan itu, antara lain di mana ia mau bekerja, dengan siapa ia mau bekerja, atau apa pilihan kerjanya, misalnya bekerja sendiri. Namun, hadiah tersebut dapat diberikan jika para orang tua memberikan beasiswa sendiri kepada anak-anak mereka yang berbakat dan mempunyai IQ tinggi.

Kini, saatnya orang tua yang berpendidikan tinggi merencanakan agar anak-anak mereka menjadi pembayar gaji, bukan diberi gaji.

Berikut ini satu lagi kisah nyata. Nooramin (bukan nama sebenarnya) lulusan SPM dengan mendapat 9A. Tanpa mengajukan permohonan, ia mendapat tawaran beasiswa Telkom untuk melanjutkan pendidikan ke Inggris. Namun, ibunya tidak mengizinkan. Orang tua Nooramin sudah bercerai saat ia berusia empat tahun.

Setelah itu, ibunya–seorang profesional dalam bidang sumber data manusia–segera membelikan anaknya itu asuransi pendidikan senilai Rp 125 juta. Asuransi pendidikan ini adalah persiapan untuk biaya pendidikan Nooramin di universitas dalam negeri.

Sejak tingkat satu, ibu Nooramin sudah berkata kepadanya, “Kamu pintar. Kamu punya pemikiran yang baik. Jadi, gunakan untuk dirimu sendiri. Jangan berikan kepada orang-orang yang lebih bodoh daripada kamu. Hanya orang bodoh yang melakukan kesalahan seperti itu.”

Nooramin lulus dari bidang elektronika di Universitas Malaya. Sebelum ia selesai menjawab kertas ujian terakhirnya, ibunya sudah mendirikan sebuah perusahaan dengan modal Rp 625 juta. Uang itu adalah hasil jerih payah dan hasil kecermatan ibunya berhemat selama 14 tahun. Nooramin bekerja sama dengan teman-teman dekatnya di universitas. Dalam waktu empat tahun, penjualan produk yang mereka keluarkan meningkat dari Rp 157,5 juta pada tahun pertama menjadi Rp 8,75 miliar pada akhir tahun keempat. Saat itu, Nooramin baru berusia 28 tahun.


Demikian penjelasan Ainun Muhammad dalam bukunya Rahasia Sukses Bisnis Mandiri: 69 Fakta yang Paling Sering Diabaikan Para Pebisnis Pemula (diterbitkan di Indonesia oleh Penerbit Hikmah pada tahun 2005).

Semoga bermanfaat!

Penulis

Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sehari-hari mengelola CalonMahasiswa.com, sebuah blog yang didedikasikan untuk membantu calon mahasiswa mendapatkan informasi dan tips yang mereka butuhkan.

Berikan Komentar

Artikel ini Bermanfaat?

Jika ya, silakan bagikan ke teman-teman kamu, ya!
▸tutup